



| Tiada Dusta Lahir Dari Ketulusan Cinta |
|
|
|
| Written by Administrator | |
| Monday, 01 March 2010 12:09 | |
|
Dalam SMS ucapan valentine, seorang teman mengirimkan sms yang bunyinya: “Kemarin Tuhan mencintai kita. Hari ini Tuhan mencintai kita juga. Besok pun Tuhan tetap mencintai kita, karena cinta-Nya tak pernah habis untuk kita. Selamat berbagi cinta dengan sesama. Selamat hari kasih sayang! Ingat: Tuhan mencintai kita selamanya!” Saya seakan dibangunkan dari tidur membaca sms dari teman lamaku ini. Sudah sekian tahun kami tidak bertemu, sejak kami selesai kuliah dan sibuk dengan dunia masing-masing, kami secara fisik belum pernah bertemu lagi. Akhirnya tanpa berpikir panjang aku telpon dia. Begitu nada sambung menandakan kontak, langsung aku dengar suaranya: “Hai, Bung. Tuhan mencintaimu. Juga mencintai aku!” “Iya… iya… sabar dululah, kawan. Sapa dulu, kek, selamat pagi, selamat siang atau basa-basi apalah, masa tiba-tiba langsung ngerocos aja?” balasku. “Hai, di hari kasih sayang begini yang pertama dan utama adalah merayakan cinta Tuhan pada kita. Yang lain belakangan,” katanya layaknya guru agama. Lalu, dia pun menanyakan kabar istri dan ketiga anakku. Mendengar pertanyaan ini, aku hanya bisa terdiam. Ada sesuatu yang terasa menyesakkan di dadaku. “Aku sedang mengajukan gugatan cerai,” jawabku singkat beberapa waktu kemudian. “Hei-hei… apa-apaan, tuh. Jangan bercanda! Bagaimana mungkin itu terjadi? Beneran kamu mengajukan gugatan cerai?” “Ya. Aku terpaksa melakukannya dan harus melakukannya!” “Harus? Aneh sekali mendengarnya: bagaimana mungkin cerai menjadi sebuah keharusan bagimu?” “Ada perempuan muda yang begitu cantik dan telah menawan hatiku. Dia lebih energik dan membuatku menjadi lelaki raja di dunia ini.” Tiba-tiba telpon kami terputus. Kucoba hubungi dia lagi, tetapi tidak dapat tersambung. Lalu sms-nya masuk dan bunyinya: “Nikmatilah dirimu yang adalah lelaki raja, tetapi yang hanya sesaat nikmatnya! Tetapi ingatlah, cinta Tuhan dapat kau nikmati seumur hidupmu. Cinta perempuan mudamu tidak selamanya!” Kucoba telpon dia lagi beberapa kali tetapi tetap tidak tersambung. Kepalaku semakin sesak dengan berbagai pikiran yang berebut tempat di ruang-ruangnya. Sementara dua hari lagi persidangan pertama gugatan ceraiku harus kujalani. Kalau mau jujur sebenarnya aku belum siap untuk menghadapi persidangan itu. Sehari menjelang sidang. Konsentrasiku buyar. Wajah istri dan anak-anakku datang begitu jelasnya. Kenangan hari pernikahan pun terbayang. Pada hari pernikahan, aku membopong istriku. Saat mobil pengantin berhenti di depan rumah, sahabatku menyuruhku untuk membopong istriku keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Saat itu aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Itulah kejadian 20 tahun yang lalu. Sekarang dia telah memberikan tiga anak bagiku. Semuanya membanggakan. Anak pertamaku yang perempuan saat ini sedang menjalani perkuliahan di universitas swasta di Yogyakarta. Sementara kedua adik laki-lakinya masih SMU dan SMP. Di sisi yang lain, Dewi hadir dalam pikiranku. Seorang perempuan metropolitan yang boleh dikatakan perfect, nyaris sempurna. Cantik, energik, cerdas dan menggoda. Dalam perjalanan waktu, karena komunikasi bisnis yang ada di antara kami, akhirnya aku jatuh hati. Naluri laki-lakiku berkobar dan ditambah dengan sikapnya yang semakin hari semakin ‘manja’ padaku, akhirnya akau jatuh juga. Bayangan ketika berada dalam pelukannya di balkon apartemen datang lagi. Saat itu, hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya, maka aku belikan apartemen untuknya. Pikiranku semakin kacau. Sekali lagi aku dikagetkan dengan sms dari teman lamaku: “Besok aku akan ke Jakarta untuk menghadiri sidang gugatan ceraimu!!!”. Aneh sekali: dari mana dia tahu kalau besok ada sidang gugatan cerai itu? Ah, aku tak mau pusing. Kalau mau datang ya datang saja. Aku pun meninggalkan kantor dan menuju ke apartemen Dewi. Seperti biasa, pelukan dan rayuan manjanya selalu menyambutku. “Kamu adalah pria terbaik yang menarik para gadis." Pada saat-saat berdua dengannya, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku. Hari persidangan pertama tiba. Setelah segala pertanyaan dari hakim kami jawab. Menjelang, akhir persidangan istriku berdiri dan mengatakan: “Saya siap diceraikan. Kalau, memang dengan perceraian ini suamiku menjadi lebih bahagia, biarlah semuanya ini terjadi. Tetapi selama putusan cerai belum diputuskan oleh pengadilan, saya minta suami saya pulang ke rumah dan tinggal bersama saya dan anak-anak. Dia harus mengatakan kepada saya dan anak-anaknya setiap hari sebelum berangkat kerja: “Aku mencintaimu!” Setelah itu kecuplah kening kami. Cukuplah itu! Kalau toh ada harta yang harus dibagi, saya tidak begitu peduli. Saya masih sanggup menjadi orangtua bagi ketiga anakku. Cinta saya tetap tidak akan berubah bagi mereka seumur hidup saya. Terimakasih!” Aku menerima permintaan dan syarat dari istriku dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinan ini diakhiri dengan suasana yang penuh kasih sayang. Tetapi sejujurnya, hatiku serasa terpukul oleh palu besar. Dari air mata yang menetes, aku merasakan ada luka di hati istriku. Seluruh hadirin yang menghadiri sidang gugatan cerai menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Istriku berusaha tersenyum pada siapa saja yang hadir, termasuk kepada kawan lamaku. Dengan berbisik, dia menghampiri istriku dan berkata: “Tenanglah, perceraian itu tidak akan terjadi. Cinta Tuhan tidak akan pernah habis!” dan kata-kata itulah yang muncul juga dalam SMSku setelah persidangan. Episode sebulan menjelang perceraian pun, kami mulai. Aku dan istriku tidak pernah mengadakan kontak badan lagi sejak gugatan perceraian itu kuajukan. Kami saling menganggap diri sebagai orang asing. Jadi ketika aku mencium keningnya dan mengatakan “Aku mencintaimu!” aku merasakan ada sesuatu yang janggal. Juga ketika kuciumi kening anak-anakku satu per satu dan kukatakan hal yang sama. Kemudian mereka berempat berdiri di pintu menatapku sampai aku keluar pagar rumah untuk menuju ke kantor. Hari terakhir menjelang putusan gugatan cerai pun tiba. Pada hari itu, ketika aku lakukan kecupan kening dan aku katakan “aku mencintaimu” kepada istri dan ketiga anakku, mereka berkata: "Sesungguhnya kami berharap ayah akan melakukannya seumur hidup ayah." Tanpa kusadari, aku tidak hanya mengecup kening istriku tetapi juga memeluknya. Ku pejamkan mata, teringat SMS dari sahabatku itu: ”Betapa indah hidup ini. Betapa indah cinta Tuhan yang tidak berkesudahan!”. Lalu, aku segera meluncur ke kantor. Dalam perjalanan ke kantor, aku sudah putuskan: perceraian itu harus dibatalkan! Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai dari kehidupan, bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi. Sejak aku mencium keningnya setiap hari, aku menyadari, bahwa ia telah melahirkan anak-anakku, merawat dan mencintai mereka dan juga aku. Aku akan menjaga mereka seumur hidupku sebagaimana mereka minta. Tiba-tiba tanda SMS telpon ku berbunyi dan tertulis di sana: "Sesungguhnya kami berharap ayah akan melakukannya seumur hidup ayah". Betapa indah hidup ini. Betapa indah cinta Tuhan yang tidak berkesudahan!. Selamat memperbaharui hidup rumah tanggamu, kawan! Ingat, tidak ada dusta lahir dari ketulusan cinta sepasang suami istri!”***
|
|
| Last Updated on Tuesday, 02 March 2010 14:26 |





