You're here : Home Kumpulan Artikel Iman dan Kepercayaan - Pasrah Ketupat Lebaran
1 | 2 | 3 | 4 |
Berbagilah untuk Mereka

Berbagilah untuk Mereka

Anak-anak panti asuhan panti mulya

Kegiatan Sosial

Kegiatan Sosial

Mengajar anak-anak Panti Mulya

Berbagilah untuk Mereka

Berbagilah untuk Mereka

Mengajar anak-anak Panti Mulya

Berbagilah untuk Mereka

Berbagilah untuk Mereka

Mengajar anak-anak Panti Mulya

PreviousNext
Ketupat Lebaran PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 01 March 2010 12:01

Mengampuni. Kata yang sangat sulit untuk diwujudkan. Mayoritas dari kita semakin hari semakin sulit mengampuni. Inginnya, segala sesuatu berbalas sepadan. Darah dibayar darah; nyawa dibayar nyawa. Dendam dan keinginan membalas seakan-akan terus saja dipelihara sehingga tidak ada ruang di hati untuk mengampuni orang lain yang melakukan kesalahan. Selalu ada sosok timbangan sebagai wujud keadilan dan hukum yang harus di jadikan dasar hidup.

Mengampuni selalu memberikan kelegaan, tidak hanya kepada yang diampuni tetapi juga bagi yang mengampuni. Sebab, dengan mengampuni seseorang dilepaskan dari beban dendam dan benci pada orang lain. Pengampunan juga menjadikan orang yang bersalah menyadari dirinya kurang benar dan mengarah ke pertobatan serta usaha untuk berbuat baik.

Andre, seorang pengusaha muda yang sukses. Kesuksesannya semakin sempurna karena dalam hidupnya hadir seorang wanita yang cantik, baik, sayang dan setia sebagai isterinya. Setelah pernikahan mereka berjalan dua tahun dan dikaruniai seorang anak perempuan yang juga cantik seperti ibunya, Andre mulai melebarkan saya usahanya untuk menyuplai barang-barang kebutuhan hotel berbintang. Usaha itu maju pesat. Order dari berbagai hotel di kota-kota besar berdatangan, sampai akhirnya dia membuka kantor pusat di Jakarta.

Untuk beberapa saat dia menikmati hidup dan kesuksesannya. Segala kenikmatan dan kesenangan duniawi direguknya: seks bebas, judi, minuman keras dan narkoba. Dia menikmati semuanya. Sekalipun pada setiap akhir pekan dia pulang, tetapi perlakuan terhadap istrinya sangat berubah. Dia tidak pernah menghargai sang istri lagi. Dia tidak lagi menjadi seorang suami dan ayah yang baik. Ketika pulang di kota tempat istri dan keluarganya tinggal, Andre tidak lagi betah di rumah. Dia selalu saja keluar dan sering pulang malam-malam dalam keadaan mabuk. Tak jarang di bawah pengaruh alkohol, dia berlaku kasar terhadap isteri dan anaknya.

Bulan berlalu. Tahun berganti. Andre tidak pernah pulang lagi ke kota tempat keluarganya tinggal. Bahkan di saat Hari Raya Idul Fitri datang, Andre pun tidak pulang. Dengan alasan masih banyak order yang harus dipenuhi saat hotel-hotel penuh karena liburan lebaran, Andre melewatkan Indul Fitrinya di Ibukota. Padahal sebenarnya, semua itu hanyalah bohong belaka. Ia pun tidak pernah lagi mengirimkan uang kepada istrinya. Untuk bertahan hidup, sang istri menghidupi anaknya dengan berjualan kecil-kecilan di depan rumahnya.

Karena gaya hidupnya sangat boros dan suka berfoya-foya, keuntungan yang didapat dari usahanya menjadi tidak sebanding dengan pengeluaran pribadinya. Uang modal dan hasil usahanya mulai menipis. Semakin hari Andre semakin terlilit hutang, baik dengan pihak bank maupun dengan para suplayernya.

Lalu dia mulai terlibat dalam perbuatan kriminal. Ia menulis cek kosong dan menggunakannya untuk menipu uang rekanan bisnisnya. Akhirnya saat naas pun tiba. Berdasarkan laporan dari orang-orang yang ditipunya, polisi menangkap dan menjebloskannya ke dalam penjara.

Putusan pengadilan pengadilan menghukum dia lima tahun penjara.

Keluarganya yang tinggal di kota lain mendapat khabar musibah yang menimpa Andre. Mereka berusaha menemuinya di tahanan, namun tidak berhasil. Andre terlalu malu dan selalu menolak bertemu dengan istri, anak serta ibunya.

Mendekam lama di penjara Andre mulai menyadari dosa-dosanya. Dibimbing oleh seorang rohaniawan ia memperdalam pemahaman tentang hidup dan kehidupan. Ia sungguh menyesali segala perbuatannya, terutama perbuatan-perbuatan yang menghancurkan kebahagiaan keluarganya. Ia pun mulai bertekad untuk mengubah kehidupannya dan mohon ampun pada Allah, ibu, isteri dan anaknya. Namun keraguan selalu muncul, adakah pengampunan dari mereka.

Menjelang akhir masa hukumannya, kerinduan untuk pulang, berjumpa dengan istri, anak dan keluarganya memuncak. Dia memutuskan untuk menulis surat kepada sang isteri untuk menyatakan penyesalannya yang yang mendalam. Dia nyatakan pula bahwa dia masih mencintai isteri dan anakya.

Di saat Idul Fitri tahun ini, dia berharap masih boleh kembali. Namun dia juga mengerti bahwa mungkin sekarang sudah terlambat. Oleh karena itu ia mengakhiri suratnya dengan menulis, "Sayang, engkau tidak perlu menunggu aku. Jika masih terbuka pintu maaf bagiku, dan engkau mau menerima aku kembali, ikatkanlah sebuah kulit ketupat kosong di batang pohon rambutan yang ada ujung halaman rumah kita. Apabila aku lewat dan tidak menemukannya, tidak apa-apa. Aku tahu dan mengerti. Aku tidak akan turun dari bis. Aku tidak akan pulang. Aku berjanji tidak akan pernah lagi menganggumu dan anak kita seumur hidupku. Maafkanlah aku..."

Hari kebebasan pun tiba. Andre sangat gelisah. Dia tidak menerima surat balasan dari isterinya. Dia tidak tahu apakah isterinya menerima suratnya. Kalau toh dia menerima dan membaca suratnya, dia juga tidak tahu apakah sang isteri mau mengampuninya.

Dengan mengumpulkan segenap keberanian yang masih tersisa, Andre memutuskan untuk pulang. Dia naik kereta menuju kota kelahirannya. Kemudian melanjutkan perjalanan pulang dengan bis yang lewat depan rumahnya. Sepanjang perjalanan Andre sangat sangat gugup. Saat bis berbelok dan semakin dekat dengan rumahnya, Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin mengucur deras.

Rumahnya semakin dekat. Tetapi Andre belum berani mengangkat kepalanya. Kegalauan semakin memuncak. Dia mulai mendaraskan doa dalam batinnya. Sedikit keberanian mulai muncul. Perlahan dia mengangkat kepalanya. Dari balik kaca bis yang ditumpanginya, dia mengarahkan pandangan ke pohon rambutan yang ada di ujung halaman rumahnya.

Jantungnya tersentak. Seluruh syarafnya menegang. Tangisnya pun pecah. Air mata tumpah dengan derasnya. Semua penumpang kaget menyaksikan kejadian itu. Bagi para penumpang merupakan pemandangan yang aneh, lelaki yang gagah dan berjambang lebat itu menangis. Tetapi, Andre sudah tidak peduli lagi. Ia melompat dari bis yang belum berhenti dengan sempurna. Keharuan menyergap hatinya.

Dia tidak melihat sebuah ketupat kosong di pohon rambutan. Tetapi ada seribu satu ketupat kosong di sana. Pohon rambutan itu seakan berubah menjadi pohon ketupat. Di batang pohon itu terpasang sebuah spanduk besar bertuliskan: SERIBU SATU KETUPAT = SERIBU SATU CINTA KAMI UNTUKMU!

Andre terdiam terpaku di pintu pagar. Dia tidak berani memasuki halaman rumahnya. Saat dia masih tercenung memandang pohon rambutan, tiba-tiba pintu depan rumah terbuka. Ibu, istri dan anak gadisnya berlari menghambur ke arahnya sambil menjerit-jerit dan memeluknya.

Andre menangis sejadi-jadinya. Ia menjatuhkan diri, bersimpuh dan memeluk erat-erat lutut ibu dan istrinya bergantian. Dia minta ampun atas semua tindakan yang telah membuat keluarganya hancur. Ibu dan istrinya membangkitkannya untuk berdiri. Andre pun meraih dan mengendong anak gadisnya. Diciuminya anak itu sambil terus mengatakan: “Maafkan bapak, nak! Bapak telah membuat kamu sedih. Bapak sayang kamu!” Anak itu pun ikut menangis sambil terus memeluk erat leher ayahnya.

Begitulah Perayaan Idul Fitri sebagai hari pembebasan, hari pengampunan menjadi sangat berarti bagi Andre. Pengampunan selalu berbuah air mata kebahagiaan dan kelegaan bagi yang mengampuni dan yang diampuni.***

Last Updated on Tuesday, 02 March 2010 14:27
 

Katagori


List All Products


Advanced Search
Download Area

Shopping Cart

VirtueMart
Your Cart is currently empty.


dummy card
dummy carrier

Jumlah Rekanan Kami

Saat ini, jumlah rekanan kami telah mencapai 20 organisasi sosial